Ia juga mengkritik keras masih langgengnya kultur kekerasan dalam tubuh aparat yang sering kali menyasar masyarakat sipil dan tokoh-tokoh kritis. IMM menilai bahwa kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat bukan sekadar insiden personal, melainkan cerminan dari lemahnya pengawasan internal dan minimnya pendidikan etika profesi.
“Kami sudah terlalu sering melihat kasus seperti ini berakhir dengan impunitas. Kali ini, IMM tidak akan diam. Kami akan menggerakkan solidaritas nasional bila perlu,” lanjut Handika.
IMM Bangka Belitung turut menyampaikan solidaritas penuh kepada keluarga besar Muhammadiyah, khususnya kepada Ustaz Hasan Rumata dan keluarganya, serta menekankan bahwa keadilan harus ditegakkan demi menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.
“IMM berdiri di garda terdepan untuk menolak segala bentuk kekerasan. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan represif terhadap tokoh agama, siapa pun pelakunya,” tegasnya lagi.

Sebagai bentuk konkret, IMM Bangka Belitung menyatakan siap mendampingi proses hukum dan melakukan pengawalan sosial atas kasus ini. Mereka juga mengajak masyarakat sipil dan organisasi keagamaan lain untuk bersatu menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan dan pembungkaman terhadap suara kebenaran.





